Daftar Kesalahan Orangtua Terhadap Anak-anaknya

Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya. Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja. Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
1. Minimnya waktu bersama anak
Orangtua masa kini cenderung menjadi “tewnty minute parents” alias orangtua 20 menit. Artinya, waktunya bersama anak hanya sesaat, yakni sekitar 10 menit sebelum berangkat kerja di pagi hari dan 10 menit di malam hari sepulang kerja. Kesibukan kerja membuat energi orangtua habis terkuras, sehingga tak lagi tersisa untuk bisa beraktivitas bersama anak, entah itu bermain, bernyanyi atau bercerita. Belum lagi kurangnya untuk mentransfer nilai-nilai moral, etika dan spiritual pada anak.
2. Lemahnya bonding/ikatan dengan anak
Keseharian anak biasanya jadi lebih banyak bersama orangtua pengganti, seperti nenek-kakek, om-tante, pengasuh, dsb. Kurangnya waktu dan limpahan perhatian kepada anak berakibat pada lemahnyabonding antara orangtua-anak.
3. Guilty feeling orangtua
Perasaan bersalah orangtua lantaran sering meninggalkan anaknya mendorong orangtua membanjiri anak dengan berbagai hadiah. Akibatnya, anak terbiasa mendapatkan segala sesuatu tanpa pernah dibarengi tuntutan apapun dari orangtua. Jadi, jangan salahkan anak bila mereka berkembang jadi anak yang “semau gue”.
4. Komunikasi tak terjalin dengan baik
Tak banyak orangtua yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, termasuk dengan anak. Tak heran kalau komunikasi terhadap anak cenderung menyimpang/dilakukan dengan cara salah, seperti membentak, menghakimi, mencemooh, mengabaikan, main perintah, dsb. Celakanya, pola komunikasi yang salah seperti inilah yang ditiru-tiru anak. Dampaknya, bukan tidak mungkin konsep diri anak jadi rendah.
5. Ketidaksiapan menjadi orangtua
Faktor yang satu ini tidak semata-mata ditentukan oleh umur dan kondisi finansial. Cukup banyak mereka yang sudah matang usianya dan mantap kondisi ekonominya tetap saja merasa tidak siap menjadi orangtua. Apalagi disini juga tidak ada semacam sekolah atau kursus menjadi orangtua.
6. Berharap terlalu banyak tanpa dibarengi tuntunan yang memadai
Contohnya, anak dibiarkan saja saat main PS terus menerus tanpa ada teguran atau peringatan untuk belajar/menyelesaikan tugas sekolah lebih dulu. Celakanya, di saat yang sama orangtua berharap anak mendapat ranking bagus di sekolahnya.
7. Tidak ada aturan yang jelas dan tegas
Seharusnya sejak anak masih kecil, orangtua sudah konsisten menanamkan aturan. Penerapannya tidak harus kaku, melainkan dilakukan secara sabar, berulang-ulang namun konsisten. Ketika memberlakukan aturan apapun, orangtua harus mampu bersikap tegas dan tegar untuk begitu saja mengikuti kemauan anak. Sekali sajaorangtua mengiyakan kehendak anak maka, aturan yang sudah ada akan rusak karena anak akan melanggarnya. Hindari tawar menawar dengan anak, apalagi sampai terpancing oleh ulah anak yang memelas.
Jika anak tidak dikenalkan pada aturan, maka dia tidak akan tahu apa yang harus dilakukannya, sehingga akan menimbulkan benturan dan konflik dengan orangtua dan siapa saja yang ditemuinya dalam pergaulan.
8. Tidak disiplin
Bersikap kelewat permisif selalu membolehkan anak melakukan apapun, juga sama sekali tidak mendidik. Orangtua membolehkan anak nonton dan main games tanpa batasan. Bahkansampai berjam-jam. Akibatnya, anak tidak tahu kalau ada aturan bagi dirinya. Dia tidak tahu mana yang boleh mana yang tidak. Jadi, beri aturan yang jelas dan tegas. Apapun konsekuensi yang telah disepakati bersama dan disampaikan kepada anak harus tetap dijalankan.
9. Orangtua kurang percaya diri
Idealnya orangtuatidak boleh “kalah kata” dengan anak. Artinya, orangtua harus punya keberanian dan rasa percaya diri. Agar anak bersedia mengikuti aturan, orangtua harus mampu bersikap tegas. Jangan sampai orangtua kehabisan kata-kata lantas menyerah pada kemauan anak.

10. Orangtua mengontrol semua kegiatan anak
Dalam hal ini orangtua menutup kesempatan anak untuk memiliki pengalaman berpikir sendiri, memilih maupun mengambil keputusan bagi dirinya. Imbasnya, anak tidak mendapat kesempatan untuk merasakan kegagalan ataupun keberhasilan. Celakanya, tanpa disadari, orangtua justru kerap melindungi anak terhadap konsekuensi alamiah akibat perilaku negatifnya. Misal, anak tidak mengerjakan PR dan orangtua yang mengambil alih untuk mengerjakannya agar anak tidak disetrap oleh gurunya. Hal ini membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar memahami bahwa perilaku negatif akan membawa dampak negatif juga. Alhasil, anak tidak termotivasi menghilangkan perilaku negatifnya semata-mata karena ia tidak pernah merasakan dampak negatif alamiah dari perilakunya.
11. Kurang Pengawasan
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.
12. Gagal Mendengarkan
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.
13. Jarang Bertemu Muka
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.
14. Terlalu Berlebihan
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.
15. Bertengkar Dihadapan Anak
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.
16. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.
17. Mengabaikan Kata Hati
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.
18. Terlalu Banyak Nonton TV
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.
19. Segalanya Diukur Dengan Materi
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.
20. Bersikap Berat Sebelah
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.
(adhi, dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: