Jadi Peer Educator, Why Not?

”Aduh gimana nih? Apa sebaiknya aku putusin aja tuh cowok?” Barangkali tipe pertanyaan semacam itu pernah kita dengar dari teman yang curhat kepada kita. Biasanya kita mencoba memberikan beberapa solusi atau alternatif jawaban. Sebenarnya, secara tidak langsung kita sedang mempraktikkan salah satu bentuk metode, yaitu pendidik sebaya.

Pendidik sebaya atau peer educator adalah suatu prinsip yang bekerja menurut dasar dari remaja, untuk remaja, dan oleh remaja. Umumnya, kita akan lebih terbuka dan bebas ngomongin permasalahannya dengan teman-teman yang seusia. Metode ini secara sederhana menggunakan teman sebaya/seusia sebagai konselor/pendidik untuk membantu teman lainnya agar dapat mengambil keputusan sendiri atas permasalahan yang dihadapinya.

Makanya, pendidik sebaya hanya berperan seperti sebuah cermin. Sebab, dia hanya merefleksikan perilaku atau memperlihatkan sisi lain yang mungkin terabaikan. Dengan demikian, remaja dapat menilai perilakunya sendiri kemudian mengambil suatu keputusan yang tepat bagi dirinya.

Namun, untuk menjadi seorang pendidik sebaya yang benar bukanlah hal gampang karena ini menyangkut kepribadian kita.

Bagaimana orang lain mau terbuka dan berkata jujur kalau ternyata kita dikenal suka ”ngember” atau dicap ”telmi” (telat berpikir). Jadi, syarat pertama menjadi pendidik sebaya adalah memiliki sifat bisa dipercaya, jujur, perhatian/empati, dan cerdas.

Jika kita merasa memiliki sifat itu, barangkali kita bisa sedikit berbangga karena kita lolos syarat pertama untuk dapat menjadi seorang pendidik sebaya. Namun, tunggu dulu. Itu semua belum cukup. Kita masih harus membekali diri dengan beberapa karakteristik berikut:

1. Penerimaan terhadap dorongan remaja.

Berfantasi merupakan hal wajar dilakukan setiap orang. Kadang-kadang dorongan atau fantasi dapat digolongkan dalam kelompok ”positif” (impian), misalnya dorongan untuk menjadi juara kelas, atau kelompok ”negatif” (fantasi). Oleh sebab itu, sebagai pendidik sebaya, langkah pertama kita harus bisa menerima apa pun macam impian atau fantasi teman kita.

Namun, yang perlu ditekankan oleh pendidik sebaya adalah impian atau fantasi yang bersifat merugikan tidak sampai diwujudkan ke perilaku. Sebab itu, kita perlu memberikan informasi yang berimbang tentang akibat positif dan negatif apabila fantasi atau impian itu dilakukan. Dengan demikian, dalam proses pengambilan keputusan, teman kita mampu mempertimbangkan secara matang.

2. Memiliki sikap percaya diri.

Seorang pendidik sebaya harus mampu mengembangkan sikap positif terhadap dirinya. Sikap positif tersebut akan membantu meningkatkan kepercayaan diri kita dalam berinteraksi atau memberikan informasi kepada teman kita. Sebaliknya, apabila kita tidak mampu mengembangkan kepercayaan diri, kita akan sulit untuk berinteraksi.

Selain harus mampu meningkatkan kepercayaan diri, pendidik sebaya juga harus mampu meningkatkan kepercayaan diri temannya agar dapat menerima kelebihan dan kekurangan dirinya.

3. Toleransi pada perbedaan.

Tidak ada seorang pun yang memiliki sifat identik, bahkan anak kembar sekalipun. Hal ini berarti bahwa seorang pendidik sebaya harus memperlakukan setiap orang secara berbeda. Pemecahan untuk satu permasalahan yang sama antara teman yang satu dapat berbeda untuk teman yang lain karena latar belakang sifat dan kepribadian.

Selain itu, kita juga perlu mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan. Kita harus bisa menghargai nilai-nilai yang dipegang oleh teman kita walaupun kita tidak merasa cocok.

4. Mengembangkan rasa humor.

Selalu bertampang serius akan dianggap membosankan dan bersikap menggurui. Namun, bukan berarti bahwa kita harus selalu melucu karena kita dapat dianggap tidak serius. Sebab itu, kita harus bisa melihat situasi dan kondisi teman kita. Rasa humor diperlukan ketika teman kita terlihat terlalu tegang atau cemas sehingga dapat membuat teman kita menjadi lebih rileks.

Rasa humor dapat juga membantu untuk mendapatkan perhatian dari teman kita atau ketika ingin menyampaikan sebuah topik menjadi lebih menarik. Jadi, sederhananya, suasana atau informasi haruslah dibuat serileks dan senyaman mungkin.

5. Memiliki minat terhadap dunia remaja.

Seorang pendidik harus mengetahui isu-isu yang sedang tren di kalangan remaja dan bahasa-bahasa pergaulan remaja. Sebab itu, kita harus memiliki pengetahuan yang luas.

6. Memiliki dasar-dasar keterampilan konseling.

Dalam belajar menjadi pendidik sebaya, kita perlu mengetahui dua sikap dasar, yaitu sikap netral (non judgmental) dan menyadari keterbatasan diri.

Bersikap netral, tidak menilai bahwa perilaku itu salah atau benar, ketika teman bercerita tentang perilaku atau sikapnya dapat membantu kita memperoleh informasi tentang permasalahan dan alasan perilaku teman. Sementara sikap sadar akan keterbatasan diri dapat membantu dalam mengukur kemampuan diri kita untuk memutuskan apakah permasalahan yang dihadapi teman kita perlu dirujuk pada seorang ahli atau tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: